Drs. Raymon, M.Pd

Drs. Raymon, M.Pd

Drs. Raymon, M.Pd

Kepala Sekolah SMK Negeri 9 Padang
(Periode Tahun 2011 ” Sekarang)

[Lahir di Bukit Tinggi, 5 Agustus 1969]

Manfaatkan Waktumu ….

Waktu itu berproses dan meninggalkan segala hal yang telah kita lalui, untuk kemudian waktu akan melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya kita pun ikut berproses di dalam perjalanan waktu tersebut.

Kita dapat berhenti sejenak untuk mengingat awal langkah perjalanan hidup sebelum akhirnya kita menemukan satu perjalanan indah dan menyenangkan. Masih banyak orang salah dalam melihat dan memaknai sesuatu yang ia lihat sehingga ia berpikiran betapa enak dan mudahnya perjalanan hidup yang hari ini kita dapatkan. Setiap orang memiliki cara sendiri menghadapi hidup yang penuh dengan perjuangan dan hambatan.

Seperti yang kita ketahui bahwa waktu itu berproses dan meninggalkan segala hal yang telah kita lalui, untuk kemudian waktu akan melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya kita pun ikut berproses di dalam perjalanan waktu tersebut.

Banyak orang mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang yang sangat tajam. Jika waktu telah kita lalui, maka ia takkan pernah kita dapatkan lagi, karena waktu tidak pernah berhenti apalagi kembali. Seperti kata orang tua, jangan pernah kita menyia-nyiakan waktu.

Jadi, persiapkan diri Anda untuk berproses dalam waktu untuk mencapai kesuksesan. Bagaimana pun hasilnya, suksess ataupun gagal adalah kesalahan kita di masa lalu.” Untuk itu persiapkan diri kita untuk menggapai sukses yang sudah menanti di depan kita. Karena sukses akan dicapai oleh orang-orang yang tidak kenal menyerah.

Saya pun mengalaminya. Setiap waktu dalam hidup saya pergunakan dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Terlebih ketika orang tua mengarahkan saya untuk menjadi Guru. Terutama ibu saya, beliau yang mendorong dan memotivasi hidup saya sehingga dapat meraih prestasi seperti yang sekarang saya dapatkan, yaitu dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMK Negeri 9 Padang di Sumatera Barat ini.

 

 

 

Nasihat Orang Tua Minang

Lulus dari SMA Negeri 3 di Kota Bukit Tinggi. Kemudian untuk memenuhi permintaan orang tua agar saya dapat menjadi guru, saya melanjutkan ke pendidikan di IKIP Padang dan setelah lulus S1 saya melanjutkan ke S2 di Universitas Negeri Padang.

“Baraja Ka Nan Manang, Mancontoh Ka Nan Sudah” adalah sebuah nasihat yang ditanamkan oleh orang tua di masyarakat Minang kepada anak-anak mereka, yang arti dari nasihat itu adalah Belajarlah kepada orang-orang yang sudah sukses dan ambil pelajaran dari pengalaman yang sudah-sudah agar tidak terjebak dua kali dalam kesalahan yang sama.

Nasihat ini akhirnya saya terapkan sebagai pedoman hidup bagi saya sehingga dapat mencapai sukses dalam meniti karier saya. Meskipun saya sama sekali tidak pernah membayangkan diri saya kelak akan menjadi Kepala Sekolah, karena saya memulai karier pertama kali menjadi Guru di SMK Negeri 6 Padang tahun 1993 silam, yang kemudian kini dipercaya menjadi Kepala Sekolah di SMK Negeri 9 Padang.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya dapat mengangkat nama sekolah SMK Negeri 9 Padang sebagai sekolah berprestasi dan menjadi sekolah rujukan yang diminat warga masyarakat setempat. Keberhasilan saya dalam memimpin sekolah ini adalah karena adanya kerjasama tim manajemen (antara Kepala Sekolah, Kepala Tata Usaha, Wakil Kepala Sekolah, Ketua Program dan semua guru) sehingga dapat mengusung langkah program yang telah kami canangkan bersama sehingga tercapai sukses. Kesuksesan seorang guru juga tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajar di kelas saja, tetapi dipengaruhi juga oleh faktor pendukung seperti suasana kerja, sarana dan prasarana dan pencitraan di sekolah.

 

 

Menghasilkan Lulusan Siap Kerja

Saya berharap semua anak didik di SMK Negeri 9 Padang hingga dapat menghasilkan lulusan yang dapat diterima di lapangan kerja sehingga mereka dapat mencapai masa depannya.

Dengan mengusung visi “Terwujudnya sekolah model dan berbudaya lingkungan” yang saya terapkan dalam memimpin SMK Negeri 9 Padang dan mencapai berbagai prestasi yang cukup membanggakan, di antaranya: Berhasil menjadikan SMK Negeri 9 Padang menjadi SMK terbaik pertama se provinsi Sumatera Barat sejak tahun 2012, 2013 dan 2014 serta” menjadi SMK Negeri rujukan di tahun 2016 ini. Selain itu, saya juga berhasil menjadi Kepala Sekolah Berprestasi tahun 2013 dan menjadi juara Pertama se Provinsi Sumatera Barat dan menjadi Kepala Sekolah Berprestasi, juara Pertama di Kota Padang.

Prestasi yang paling berkesan adalah ketika saya terpilih menjadi Kepala Sekolah Berprestasi tahun 2013 karena di undang dalam acara kenegaraan bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara dalam memperingati hari Proklamasi RI, 17 Agustus 2013.

Dari prestasi yang pernah saya dapatkan, masih ada hal-hal yang belum terwujud yaitu mengirimkan siswa dalam on jon training atau bekerja ke negara-negara Eropa dan Timur Tengah.

Keberhasilan yang saya capai sekarang tidak lepas dari dukungan dari istri saya, Juni Yeni dan keempat anak saya: Ray Fathur Radhlurrahman, Ray Luthfi Lukmanulhakim, Raysha Syahira Syifa dan Ray Zazfran Z..

Harapan saya ke depan kepada generasi selanjutnya semoga mereka dapat membawa pendidikan sebagai salah satu sarana untuk membawa generasi muda agar mereka dapat menjadi insan yang dapat menyiapkan masa depannya sendiri. Karena masa depan itu akan terlihat nanti pada waktu mereka sudah bekerja atau menghasilkan suatu karya.

Pahri, S. Ag.MM

Pahri, S. Ag.MM

Pahri, S. Ag.MM

Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi
(Periode Tahun 2009 ” Sekarang)

[Lahir di Bangkalan, 6 Juli 1971]

Jangan Terlalu Melekat

Terkadang yang tidak kita pikirkan atau tidak diharapkan justru akan membawa kebaikan bagi kita suatu saat nanti.

 

Kondisi alam Madura yang kurang subur. Tanah gersang, bebatuan dan berkapur. Air sulit di musim kemarau. Tanaman tidak mudah tumbuh. Kondisi yang serba keras ini membutuhkan orang yang memiliki energi lebih dan mau bekerja ekstra. Artinya kalau tidak kerja keras, maka sulit bertahan hidup. Nilai-nilai kerja keras ini yang seringkali ditanamkan oleh bapak saya yang telah memotivasi saya dalam bekerja. Bahkan orang tua seringkali mengingatkan saya, “Tugas manusia itu hanya ikhtiar, hasilnya Allah yang menentukan”.

“”””””””” Ternyata benar nasihat bapak saya. Kita pun harus menyadari bahwa kita boleh “terlalu melekat” dengan sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan. Yang penting kita lakukan adalah berusaha dan menikmati seluruh hasil dari usaha yang kita lakukan. Sebab terkadang yang tidak kita pikirkan atau tidak diharapkan justru akan membawa kebaikan bagi kita suatu saat nanti.

Hal ini terjadi pada diri saya. Sejak lulus tahun 1990 dari PGAN Pamekasan (setingkat SMA) saya terlalu melekat dengan apa yang saya cita-citakan, yaitu menjadi seorang Dosen. Dan impian itu pun terkabulkan.

Lepas dari pendidikan Menengah dari PGAN itu saya melanjutkan pendidikan ke S1 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan lulus tahun 1995. Tamat dari pendidikan S1 di UMM itu saya mendapatkan kepercayaan oleh Rektor UMM yang waktu itu dijabat Prof Drs. H. Malik Fadjar, M.Sc.

Saya diminta untuk mengajar di almamater.” Mungkin itu sebagai reward bagi saya yang waktu itu menjadi wisudawan terbaik Tingkat Universitas. Akhirnya saya pun menjadi Dosen di kampus UMM itu, dan menambah bekal pendidikan lanjutan ke S2 di UMM dan lulus tahun 1999.

Sebelum lulus dari S2 itu, oleh Rektor UMM yang ketika itu dijabat oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap saya mendapatkan tugas tambahan untuk mengajar di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi.

Awalnya agak berat untuk menjalankan tugas ini, karena jarak rumah dan sekolah yang jauh (pulang pergi sekitar 85 Km) yang harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Terlebih lagi tradisi “akademik di Universitas dengan Sekolah sangat berbeda.

Selain itu, kondisi SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi masih memprihatinkan. Sekolah kecil, di desa dan di” tengah-tengah” kebun tebu. Terlebih lagi, keluarga tidak mendukung. Namun “tugas” ini harus saya jalankan. Waktu terus berjalan dan tahun 2009 saya diamanahi untuk menjadi Kepala Sekolah. Bersama PTK dan Persyarikatan” Muhammadiyah yang berkomitmen untuk memajukan dan membesarkan sekolah.

Ketika mendapatkan tugas sebagai Kepala Sekolah di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, satu tekad yang menggelora saat itu, yaitu semangat, kerja keras, kerja ikhlas, dan pantang menyerah.

Alhamdulillah, sekolah yang awalnya kecil dan memprihatinkan itu sekarang menjadi sekolah dengan segudang prestasi dan menjadi asset berharga bagi kota Malang, Jawa Timur dan Indonesia.

 

 

Dari Dosen Jadi Kepsek

Impian yang terlalu melekat itu ternyata tidak selamanya baik untuk dirisaya. Dengan keikhlasan hati saya lepaskan dan mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki ini untuk mencetak generasi muda penerus bangsa di lingkungan sekolah.

Dunia pendidikan memang sudah menjadi jalang kehidupan saya. Saat ini pun, saya tetap melanjutkan pendidikan saya hingga ke jenjang pendidikan Strata 3 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pendidikan S3 ini saya jalani disela-sela saya menjalankan tugas sebagai Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (saat ini masih menyelesaikan studi S3).

Pencapaian karier yang saat ini saya lakukan telah membawa hasil. Semua itu karena saya konsekuen dalam bekerja, memikul tanggung jawab, amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh Rektor UMM kepada saya untuk menjadi pemimpin di lingkungan sekolah dan berhasil membawa sekolah yang saya pimpin ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Orang yang banyak mempengaruhi jalan hidup saya adalah kedua orang tua saya,” H. Sayyidun dan Hj. Marbu”ah (almarhumah). Bapak dan Ibu yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang. Tulus ikhlas tanpa pamrih. Mereka mengajari dan memotivasi saya agar hidup menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta tidak menjadi beban bagi orang lain.

Nasihat yang tak dapat” dilupakan dari Bapak saya, “Sesibuk apa pun kamu, jangan sampai tinggalkan shalat”.

Sebagaimana orang desa pada umumnya, urusan agama adalah nomor satu. Segala-galanya. Tidak dapat digantikan dengan yang lainnya. Pesan itulah yang senantiasa tergiang-giang dalam hati dan jiwa saya.

Kedua orang tua saya tidak tamat sekolah dasar. Bahkan ibu saya tidak bisa membaca huruf latin. Namun yang saya kagumi adalah kecintaan mereka pada pendidikan. Suatu ketika saya bersama tujuh saudara diajak berkumpul di ruang tengah rumah. Materinya sangat serius, tetang pendidikan dan masa depan.

Waktu bapak bilang, “Saya tidak mempunyai banyak harta yang bisa diwariskan kepada kalian. Satu-satunya harta yang bisa saya warisan adalah ilmu. Silakan kamu belajar, hanya kemampuan Bapak sampai SMA. Kalau kamu ingin sekolah lebih tinggi lagi, silakan cari jalan sendiri. Cari biaya sendiri”.

Di desa saya memang jarang anak bersekolah, yang ada hanya anak mondok. Karena setamat sekolah dasar rata-rata bekerja membantu orang tua di ladang atau merantau di negeri seberang. Jarang ada orang tua yang berpikiran untuk menyekolahkan anak.

Ungkapan yang seringkali saya dengar dari masyarakat, “Untuk apa sekolah, kepala desa sudah ada, camat sudah ada, bupati sudah ada dan presiden pun sudah ada. Artinya percuma sekolah, karena jabatan strategis sudah banyak yang mengisi. Miris hati saya dengan sikap masyarakat desa seperti itu”.

Dinahkodai Sarjana Alam Ghoib

Saat diberi amanah memimpin SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, banyak PTK dan masyarakat yang meragukan dan menyangsikan kemampuan saya. Maklum pendidikan saya adalah Sarjana Agama (S.Ag). Sedangkan sekolah yang saya pimpin adalah sekolah yang berbasis Teknologi, Teknik Otomotif dan Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik.” Mereka mengatakan pendidikan saya tidak nyambung dan salah jalur.

Makanya gelar S.Ag saya, seringkali mereka plesetkan dengan singkatan Sarjana Alam Ghoib. Saya tidak marah, karena pekerjaan sarjana agama itu memang bersinggungan dengan hal-hal yang ghoib. Seperti iman kepada Allah, Malaikat, Surga dan Neraka.

Menghadapi mereka yang alergi dengan gelar S.Ag bahkan tak jarang melecehkannya. Ledekan-ledekan itu saya jawab dengan entheng-enthengan, “Memang tugas sarjana agama itu, menjadikan yang ghoib menjadi dhahir (tampak/kelihatan). Yang remang-remang menjadi jelas. Yang tidak nyata menjadi nyata. Yang tidak ada menjadi ada. Yang tidak maju menjadi maju. Dan yang terbelakang menjadi terdepan“.

Sebagai bukti, kini sekolah SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi sudah 7 tahun dinahkodai oleh Sarjana Alam Ghoib (S.Ag) dan yang dulu tidak jelas prestasinya, sekarang telah menjelma menjadi SMK Muhammadiyah ini menjadi jelas prestasinya. Bahkan sekarang menjadi sekolah unggulan, sekolah excellent dan sekolah rujukan Nasional dengan prestasi dan memiliki reputasi di Tingkat Nasional dan Internasional.

Walaupun saya sudah banyak mencetak prestasi di dalam meritis sekolahan ini, tetapi masih banyak hal yang belum terwujud dari mimpi besar kami beserta PTK SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Pertama, memiliki siswa minimal empat ribu lebih. Saat ini baru mendidik 2.300 siswa. Masih kurang 1.700. Jumlah siswa besar dengan harapan, memberikan manfaat yang besar kepada siswa, orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara. Kedua, lahan tanah pendidikan minimal 100.000 “m2. atau sepuluh hektar. Baru tercapai 23.000 m2. Berarti masih kurang sekitar 77.000 m2.” Lahan yang luas memberikan ruang gerak yang cukup bagi peserta didik dan ruang terbuka untuk berkreasi. Sehingga sekolah yang luas akan menjadi tempat rekreasi pikir dan dzikir yang menyenangkan dan menggembirakan. Ketiga, sarana olah raga yang berstandar Internasional belum kami miliki. Seperti kolam renang, lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan panahan dan menembak, peralatan dan panggung pentas kesenian,” Keempat, sarana pendidikan berstandar Internasional juga belum memadai. Kelima, kesejahteraan” PTK saat ini pendapatannya belum memadai. Jika guru sejahtera, mereka pasti bangga dengan profesinya. Dampaknya” anak-anak Indonesia yang pintar dan cerdas di republik ini, kelak mereka pun akan memiliki cita-cita menjadi guru. Kalau gurunya pintar, maka akan melahirkan generasi-generasi Indoensia yang pintar, cerdas dan berkemajuan.

Harapan saya kepada generasi selanjutnya, agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi diri dan orang lain. Kesuksesan dapat diraih hanya dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Sebab, tidak kesuksesan diraih secara instan. Tanpa keringat dan hanya dengan bermalas-malasan. Bila sukses, maka jangan bosan untuk berbagi kesuksesan itu dengan orang lain dan jangan pelit. Mudahkanlah urusan orang lain, karena Allah pun pasti akan memudahkan urusan kita. Dan tak lupa bahagikan orang yang paling engkau cintai, seperti ibu dan bapak.

Lea Lindrawijaya Suroso, M.Pd

Lea Lindrawijaya Suroso, M.Pd

Lea Lindrawijaya Suroso, M.Pd

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Batam
(Periode September 2013 ” Sekarang)

[Lahir di Kotamobagu, 24 Januari 1969]

Energi Positif Raih Sukses

Jika kita bekerja dengan ikhlas, maka akan tetap terpelihara semangat kita dalam situasi dan kondisi apa pun dan akan membawa kita pada rezeki yang tidak pernah kita duga.

“”””””””” Bertugas sebagai seorang pengajar di wilayah yang sangat jauh dari sanak keluarga memang membutuhkan tekad dan keberanian pada saat mengambil keputusan tersebut. Itulah yang saya alami. Terlahir di Kotamobagu Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 24 Januari 1969. Untuk bisa mencapai tangga sukses seperti sekarang ini membutuhkan energi sangat besar. Energi positif inilah yang mendukung langkah saya inilah yang membawa saya berhasil meraih sukses dan kualitas hidup yang lebih baik. Energi ini pula yang memotivasi diri saya untuk “hijrah” ke Batam demi mengabdi menjalankan tugas mulia sebagai Guru.

Bekerja sebagai Guru di wilayah tugas yang jauh memang bukan perkara mudah. Namun secercah harapan untuk memajukan pendidikan anak-anak negeri membuat saya mampu bertahan dalam kondisi sesulit apa pun dan saya sangat menikmat proses perjalanan karier ini.

Apalah artinya sebuah jabatan, jika tidak diimbangi dengan kecintaan pada pekerjaan yang kita lakukan. Dengan menyukai pekerjaan mengajar ini membuat diri saya semakin termotivasi dalam bekerja. Walaupun sebenarnya saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi seorang Guru apalagi menjadi Kepala Sekolah di SMK Negeri yang wilayah tugasnya jauh dari sanak keluarga.

Membawa Pada Kesenangan

Waktu Lulus SMP saya sebenarnya sudah bercita-cita menjadi ahli geologi. Ketika lulus SMA tahun 1987 di Kotamobagu Kabupaten Bolaang Mongondow, saya pergi ke Bandung dengan niat untuk meneruskan kuliah di ITB.” Sayangnya saya tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi.” Kemudian di tahun 1988 saya ikut ujian lagi, tapi tidak di ITB melainkan memilih IKIP Bandung dengan alasan ekonomi keluarga dan berharap lulus di” Jurusan Fisika IKIP Bandung sebagai pilihan kedua tapi justru lulus di jurusan Teknik Mesin yang menjadi pilihan pertama.

Pilihan pada profesi Guru telah membawa saya pada berbagai prestasi gemilang, antara lain: terpilih menjadi Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Kota Batam pada tahun 2010 (Peringkat Pertama). Berhasil membawa Sekolah SMK Negeri 1 Batam sebagai sekolah Berintegritas UN di Tahun 2015. Meraih Nilai Kumulatif UN Tertinggi di peringkat 1 untuk Tingkat Kota Batam dan Provinsi Kepri di tahun 2014 dan 2015. Meraih Nilai Kumulatif UN Tertinggi Perigkat I untuk Tingkat Kota Batam dan Peringkat II untuk Tingkat Provinsi Kepri tahun 2016.

Dari prestasi-prestasi yang pernah saya dapatkan itu mendorong saya untuk meningkatkan kualitas diri, baik dengan menambah bekal keterampilan, keahlian dan hal-hal yang menunjang karier saya sebagai Kepala Sekolah yang terus saya perbaharui kualitasnya melalui diklat, karya nyata dan kunjungan ke berbagai negara di benua Eropa yang pertama kali pada tahun 2009 ketika mendapat beasiswa mengikuti training di Jerman selama 3 bulan. Sejak saat itu, setiap tahun sampai dengan tahun 2015 saya sudah mengunjungi beberapa Negara di Eropa, termasuk Australia baik bersama dengan rombongan di bawah koordinasi Dit. PSMK maupun” membawa rombongan Disdik Kota Batam dan Provinsi Kepri serta anggota dewan lain untuk melihat kemajuan pendidikan di Negara-negara tersebut” dan menjalin networking.

Tak disangka-sangka dari pilihan karier Guru ini, berbagai keberhasilan dan kesenangan dapat saya peroleh, membuat saya menjadi semakin termotivasi dalam bekerja dan meraih sukses-sukses yang lain dari tahun ke tahun.

Suka Duka Yang Mendewasakan

Namun perjalanan karier sebagai Kepala Sekolah ini tak selalu mulus. Di tahun pertama dan kedua saat menjadi kepala SMK Negeri 3 Batam, banyak kejadian tak menyenangkan saya alami. Beberapa guru dan” tenaga kependidikan sangat kesal dengan program saya sekolah bebas sampah sampai-sampai di antara mereka menjuluki saya Ibu Sampah. Selama 6 bulan pertama saya menjadi Kepala Sekolah di sana. Kami masih menumpang di sekolah lain dengan jumlah siswa 72 orang. Bulan Mei tahun 2008 beberapa waktu menjelang” ujian semeseter genap saya mengajak seluruh siswa, TU dan guru pindah ke gedung SMK N 3 Batam yang masih dalam proses finishing. SMK N 3 Batam terletak pada punggung bukit dengan dengan level ketinggian yang berbeda-beda dan ketika hujan turun, air deras mengalir dari puncak bukit menuju ke bawah di mana ruang kelas dan ruang guru berada. Belum lagi letaknya berada di kawasan yang dijuluki orang Texasnya Amerika. Kalau saya menjulukinya “sarang penyamun”” Jumlah ruang kelas yang dibangun Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau 6 ruang belajar teori dan 1 bangunan untuk ruang Kepala Sekolah, Guru dan TU. Pertama kali diangkat menjadi kepala sekolah pada sekolah dengan kondisi” seperti ini.

Ternyata pengalaman hidup yang penuh perjuangan ditambah bayangan-bayangan seorang Margaret Thatcher, sifat ikhlas dan penyayang Cinderella pelan tapi pasti mampu membawa saya mengelola sekolah SMK Negeri 3 Batam berhasil keluar dari permasalahannya satu per satu. Diawali langsung dengan program penghijauan dan sekolah bebas sampah juga program-program pengembangan sekolah lainnya.

Pengalaman berkesan adalah ketika saya me-lead” program sekolah bersih dan bebas sampah. Program ini membuat saya dijuluki “Ibu Sampah” oleh beberapa guru dan tenaga kependidikan meskipun hanya “terdengar dari belakang” telinga saya. Tapi ketika satu per satu guru juga TU saya tugaskan pergi ke sekolah lain entah untuk mengikuti kegiatan MGMP atau kegiatan lainnya, dan ketika mereka pulang ke sekolah dengan bangganya mereka mengatakan bahwa sekolah kita bagus, teratur, rapi dan bersih dibandingkan dengan sekolah lain, hal itulah yang membuat saya merasa berhasil sebagai kepala sekolah. Pengalaman lain yang tidak akan pernah terlupakan ketika pertama kali mengutarakan niat untuk menempati bangunan yang masih dalam proses finishing ke masyarakat di sekitar sekolah justru diancam dengan parang oleh salah satu warganya dengan alasan belum ada serah terima dan pekerjanya belum dibayar.

Kejadian kedua yang mengancam keselamatan adalah ketika libur puasa pada awal-awal tahun pertama menempati bangunan sendiri ” tahun 2008 juga ” saat datang ke sekolah siang hari berdua dengan adik. Selain mengontrol kondisi sekolah juga akan memasang lampu sorot di beberapa sudut sekolah yang membutuhkan penerangan lebih.” Saat itu sekolah belum memiliki uang sehingga untuk pekerjaan ini dilakukan sendiri. Ketika proses pekerjaan sedang berlangsung, adik saya di atas plafon sedang memasang instalasi kabelnya dan saya sendirian di bawah, datang lagi orang yang sama yang pernah mengancam dengan parang. Dengan membawa kayu” panjang sebesar lengan orang dewasa dan oknum tersebut berteriak ke saya untuk menghentikan pekerjaan, kalau tidak jendela-jendela akan dihancurkan.

Ancaman itu tidak membuat saya gentar. Justru saya ajak ngobrol baik-baik dan tanya mengapa mau menghancurkan sekolah. Alasannya masih sama. Pekerjanya belum dibayar, padahal informasi dari Disdik Kepri semua pembayaran pembangunan SMK Negeri 3 Batam sudah diselesaikan dengan pemenang tendernya. Karena oknum tersebut tidak bisa diajak bicara baik-baik, saya dengan gaya yang dibuat tenang meskipun dalam hati ngeri juga menyuruh dengan tegas orang tersebut untuk pulang, mencari orang yang bertanggung jawab terhadap gaji pekerjanya. Tapi karena ngeyel juga, terakhir saya ngomong “ya sudah. Kalau bapak tetap juga mau menghancurkan sekolah ini silahkan saja. Bangunan ini bukan milik saya. Milik pemerintah. Saya cuma ingin membuat sekolah ini layak dan aman untuk ditempati. Anak-anak di sekitar sini termasuk anak bapak yang” bersekolah di sini nyaman dan aman” belajarnya”. Sesaat kemudian tanpa menjawab apa-apa lagi orang tersebut berjalan menjauh dari saya, memutari bangunan” sekolah dan keluar dari halaman sekolah. Mata saya masih terus mengikuti gerak orang tersebut sampai keluar dari halaman sekolah. Dari hati yang was-was kalau-kalau ancamannya benar-benar dibuktikan” sampai kemudian bernafas lega karena kemudian tidak ada satupun kaca/bangunan sekolah yang disentuhnya. Belakangan saya cari tahu siapa orang itu. Ternyata seorang mantan residivis dan tidak memiliki anak. Sampai akhir masa tugas saya sebagai kepala sekolah disana, Alhamdulillah sSMK Negeri 3 Batam tidak pernah diganggu lagi.

Karena dianggap berhasil, saya kemudian diangkat lagi menjadi Kepala Sekolah di SMKN 3 Batam untuk periode kedua. Tapi baru beberapa bulan menjalankan tugas diperiode kedua, saya dipindahkan menjadi Kepala SMK Negeri 7 Batam yang masih dalam proses pembangunan pada bulan April 2013. Bulan Juni tahun 2013, saya dinotadinaskan lagi menjadi Kepala SMK Negeri 6 Batam sampai akhirnya pada proses pelantikan bulan September 2013 saya” resmi diangkat menjadi Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Batam yang prestasinya selalu melampaui sekolah lain, baik untuk tingkat Kota Batam maupun Provinsi Kepulauan Riau.

Itulah suka duka dalam perjalanan karier sebagai Kepala Sekolah. Saya yakin bahwa jika kita bekerja dengan ikhlas, maka akan tetap terpelihara semangat kita dalam situasi dan kondisi apa pun dan akan membawa kita pada rezeki atau keberhasilan yang tidak pernah kita duga.

 

 

 

 

 

Di awal-awal tahun pertama saat saya mengemban tugas sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Batam, saya membuat kegiatan out bond bersama dengan seluruh guru dan tenaga kependidikan SMK Negeri 1 Batam.” Di hotel bintang 4 kota Batam. Setiap guru/karyawan mendapat jatah 1 kamar hotel untuk dirinya dan keluarganya. Kegiatan outbond ini tujuannya untuk menyamakan “rasa” dalam mengembangkan sekolah, antara saya dan seluruh guru serta tenaga kependidikannya, tentu juga dengan memperhitungkan kekuatan dana sekolah yang ada.

Visi saya dalam memimpin sekolah adalah mencapai Keberhasilan setiap program kerja baik yang dibuat di internal sekolah maupun yang diperoleh dari Dit. PSMK baik program kerja jangka pendek maupun jangka panjang serta terjaganya keberlangsungan dampak dari program-program tersebut dan terpeliharanya komitmen untuk melaksanakannya. Tetap melaksanakan program/kegiatan yang sudah bagus dari kepala sekolah sebelumnya dan membuat serta melaksanakan program/kegiatan berikutnya yang belum ada untuk menambah kemajuan sekolah.

Beberapa program yang belum terwujud selama menjadi Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Batam, seperti:” Mewujudkan SMK Negeri 1 Batam menjadi sekolah bebas sampah (maksudnya bebas sampah yang dibuang sembarangan). Dan mengolah sampah plastik bekas minum menjadi biji-biji plastik untuk dijual kembali. Saya berasumsi, lebih dari 1.500 orang siswa SMK Negeri 1 Batam yang 1000 orang saja minuman air mineral 1 (gelas ataupun botol)” setiap hari, maka dalam 1 hari ada 1.000 gelas/botol air mineral yang menjadi limbah sampah. Dan jika ini diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis maka akan ada sumber pendapatan lain untuk membantu kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan. Namun sayangnya, mesin pengolahnya yang mahal membuat program ini belum berjalan.

Yang sangat membanggakan saya adalah untuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam, SMK Negeri 1 Batam dinilai sangat maju dibandingkan dengan sekolah lain, dikarenakan prestasi-prestasi yang berhasil diraih melampaui prestasi sekolah lain yang berada yang di wilayah Kota Batam maupun Provinsi Kepulauan Riau. Baik dari prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Sarana belajar teori dan praktek yang juga lebih memadai membuat julukan sebagai sekolah unggul dan maju melekat di SMK Negeri 1 Batam. Tapi sesungguhnya komitmen yang dibangun sejak awal sekolah ini didirikan di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah yang pertama sampai dengan saya (kepala sekolah ke 7) yang tetap terpelihara sampai saat ini untuk” terus memajukan SMK Negeri 1 Batam. Ditambah dengan komitmen Pemerintah Daerah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Dit. PSMK untuk memajukan SMK-SMK di seluruh Indonesia membuat SMKN 1 Batam lebih unggul dan maju. Satu lagi program saya yang menambah predikat keunggulan itu adalah mem-Benchmark– kan seluruh tim “manajemen” sekolah” dimulai dari level wakil kepala sekolah sampai ke kepala program keahlian ke sekolah/lembaga pendidikan di negara-negara maju. Tujuan dari kegiatan ini agar mereka memiliki visi yang sama dengan saya dalam mengelola sekolah.

Sampai saat ini memasuki tahun ketiga saya menjadi Kepala SMK Negeri 1 Batam, sudah semua Wakil Kepala Sekolah melakukan benchmarking ke negara-negara di benua Eropa dan baru beberapa kepala program keahlian melakukan kegiatan Benchmarking di Negara-negara kawasan Asia/ASEAN.