Lea Lindrawijaya Suroso, M.Pd

Lea Lindrawijaya Suroso, M.Pd

Lea Lindrawijaya Suroso, M.Pd

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Batam
(Periode September 2013 ” Sekarang)

[Lahir di Kotamobagu, 24 Januari 1969]

Energi Positif Raih Sukses

Jika kita bekerja dengan ikhlas, maka akan tetap terpelihara semangat kita dalam situasi dan kondisi apa pun dan akan membawa kita pada rezeki yang tidak pernah kita duga.

“”””””””” Bertugas sebagai seorang pengajar di wilayah yang sangat jauh dari sanak keluarga memang membutuhkan tekad dan keberanian pada saat mengambil keputusan tersebut. Itulah yang saya alami. Terlahir di Kotamobagu Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 24 Januari 1969. Untuk bisa mencapai tangga sukses seperti sekarang ini membutuhkan energi sangat besar. Energi positif inilah yang mendukung langkah saya inilah yang membawa saya berhasil meraih sukses dan kualitas hidup yang lebih baik. Energi ini pula yang memotivasi diri saya untuk “hijrah” ke Batam demi mengabdi menjalankan tugas mulia sebagai Guru.

Bekerja sebagai Guru di wilayah tugas yang jauh memang bukan perkara mudah. Namun secercah harapan untuk memajukan pendidikan anak-anak negeri membuat saya mampu bertahan dalam kondisi sesulit apa pun dan saya sangat menikmat proses perjalanan karier ini.

Apalah artinya sebuah jabatan, jika tidak diimbangi dengan kecintaan pada pekerjaan yang kita lakukan. Dengan menyukai pekerjaan mengajar ini membuat diri saya semakin termotivasi dalam bekerja. Walaupun sebenarnya saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi seorang Guru apalagi menjadi Kepala Sekolah di SMK Negeri yang wilayah tugasnya jauh dari sanak keluarga.

Membawa Pada Kesenangan

Waktu Lulus SMP saya sebenarnya sudah bercita-cita menjadi ahli geologi. Ketika lulus SMA tahun 1987 di Kotamobagu Kabupaten Bolaang Mongondow, saya pergi ke Bandung dengan niat untuk meneruskan kuliah di ITB.” Sayangnya saya tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi.” Kemudian di tahun 1988 saya ikut ujian lagi, tapi tidak di ITB melainkan memilih IKIP Bandung dengan alasan ekonomi keluarga dan berharap lulus di” Jurusan Fisika IKIP Bandung sebagai pilihan kedua tapi justru lulus di jurusan Teknik Mesin yang menjadi pilihan pertama.

Pilihan pada profesi Guru telah membawa saya pada berbagai prestasi gemilang, antara lain: terpilih menjadi Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Kota Batam pada tahun 2010 (Peringkat Pertama). Berhasil membawa Sekolah SMK Negeri 1 Batam sebagai sekolah Berintegritas UN di Tahun 2015. Meraih Nilai Kumulatif UN Tertinggi di peringkat 1 untuk Tingkat Kota Batam dan Provinsi Kepri di tahun 2014 dan 2015. Meraih Nilai Kumulatif UN Tertinggi Perigkat I untuk Tingkat Kota Batam dan Peringkat II untuk Tingkat Provinsi Kepri tahun 2016.

Dari prestasi-prestasi yang pernah saya dapatkan itu mendorong saya untuk meningkatkan kualitas diri, baik dengan menambah bekal keterampilan, keahlian dan hal-hal yang menunjang karier saya sebagai Kepala Sekolah yang terus saya perbaharui kualitasnya melalui diklat, karya nyata dan kunjungan ke berbagai negara di benua Eropa yang pertama kali pada tahun 2009 ketika mendapat beasiswa mengikuti training di Jerman selama 3 bulan. Sejak saat itu, setiap tahun sampai dengan tahun 2015 saya sudah mengunjungi beberapa Negara di Eropa, termasuk Australia baik bersama dengan rombongan di bawah koordinasi Dit. PSMK maupun” membawa rombongan Disdik Kota Batam dan Provinsi Kepri serta anggota dewan lain untuk melihat kemajuan pendidikan di Negara-negara tersebut” dan menjalin networking.

Tak disangka-sangka dari pilihan karier Guru ini, berbagai keberhasilan dan kesenangan dapat saya peroleh, membuat saya menjadi semakin termotivasi dalam bekerja dan meraih sukses-sukses yang lain dari tahun ke tahun.

Suka Duka Yang Mendewasakan

Namun perjalanan karier sebagai Kepala Sekolah ini tak selalu mulus. Di tahun pertama dan kedua saat menjadi kepala SMK Negeri 3 Batam, banyak kejadian tak menyenangkan saya alami. Beberapa guru dan” tenaga kependidikan sangat kesal dengan program saya sekolah bebas sampah sampai-sampai di antara mereka menjuluki saya Ibu Sampah. Selama 6 bulan pertama saya menjadi Kepala Sekolah di sana. Kami masih menumpang di sekolah lain dengan jumlah siswa 72 orang. Bulan Mei tahun 2008 beberapa waktu menjelang” ujian semeseter genap saya mengajak seluruh siswa, TU dan guru pindah ke gedung SMK N 3 Batam yang masih dalam proses finishing. SMK N 3 Batam terletak pada punggung bukit dengan dengan level ketinggian yang berbeda-beda dan ketika hujan turun, air deras mengalir dari puncak bukit menuju ke bawah di mana ruang kelas dan ruang guru berada. Belum lagi letaknya berada di kawasan yang dijuluki orang Texasnya Amerika. Kalau saya menjulukinya “sarang penyamun”” Jumlah ruang kelas yang dibangun Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau 6 ruang belajar teori dan 1 bangunan untuk ruang Kepala Sekolah, Guru dan TU. Pertama kali diangkat menjadi kepala sekolah pada sekolah dengan kondisi” seperti ini.

Ternyata pengalaman hidup yang penuh perjuangan ditambah bayangan-bayangan seorang Margaret Thatcher, sifat ikhlas dan penyayang Cinderella pelan tapi pasti mampu membawa saya mengelola sekolah SMK Negeri 3 Batam berhasil keluar dari permasalahannya satu per satu. Diawali langsung dengan program penghijauan dan sekolah bebas sampah juga program-program pengembangan sekolah lainnya.

Pengalaman berkesan adalah ketika saya me-lead” program sekolah bersih dan bebas sampah. Program ini membuat saya dijuluki “Ibu Sampah” oleh beberapa guru dan tenaga kependidikan meskipun hanya “terdengar dari belakang” telinga saya. Tapi ketika satu per satu guru juga TU saya tugaskan pergi ke sekolah lain entah untuk mengikuti kegiatan MGMP atau kegiatan lainnya, dan ketika mereka pulang ke sekolah dengan bangganya mereka mengatakan bahwa sekolah kita bagus, teratur, rapi dan bersih dibandingkan dengan sekolah lain, hal itulah yang membuat saya merasa berhasil sebagai kepala sekolah. Pengalaman lain yang tidak akan pernah terlupakan ketika pertama kali mengutarakan niat untuk menempati bangunan yang masih dalam proses finishing ke masyarakat di sekitar sekolah justru diancam dengan parang oleh salah satu warganya dengan alasan belum ada serah terima dan pekerjanya belum dibayar.

Kejadian kedua yang mengancam keselamatan adalah ketika libur puasa pada awal-awal tahun pertama menempati bangunan sendiri ” tahun 2008 juga ” saat datang ke sekolah siang hari berdua dengan adik. Selain mengontrol kondisi sekolah juga akan memasang lampu sorot di beberapa sudut sekolah yang membutuhkan penerangan lebih.” Saat itu sekolah belum memiliki uang sehingga untuk pekerjaan ini dilakukan sendiri. Ketika proses pekerjaan sedang berlangsung, adik saya di atas plafon sedang memasang instalasi kabelnya dan saya sendirian di bawah, datang lagi orang yang sama yang pernah mengancam dengan parang. Dengan membawa kayu” panjang sebesar lengan orang dewasa dan oknum tersebut berteriak ke saya untuk menghentikan pekerjaan, kalau tidak jendela-jendela akan dihancurkan.

Ancaman itu tidak membuat saya gentar. Justru saya ajak ngobrol baik-baik dan tanya mengapa mau menghancurkan sekolah. Alasannya masih sama. Pekerjanya belum dibayar, padahal informasi dari Disdik Kepri semua pembayaran pembangunan SMK Negeri 3 Batam sudah diselesaikan dengan pemenang tendernya. Karena oknum tersebut tidak bisa diajak bicara baik-baik, saya dengan gaya yang dibuat tenang meskipun dalam hati ngeri juga menyuruh dengan tegas orang tersebut untuk pulang, mencari orang yang bertanggung jawab terhadap gaji pekerjanya. Tapi karena ngeyel juga, terakhir saya ngomong “ya sudah. Kalau bapak tetap juga mau menghancurkan sekolah ini silahkan saja. Bangunan ini bukan milik saya. Milik pemerintah. Saya cuma ingin membuat sekolah ini layak dan aman untuk ditempati. Anak-anak di sekitar sini termasuk anak bapak yang” bersekolah di sini nyaman dan aman” belajarnya”. Sesaat kemudian tanpa menjawab apa-apa lagi orang tersebut berjalan menjauh dari saya, memutari bangunan” sekolah dan keluar dari halaman sekolah. Mata saya masih terus mengikuti gerak orang tersebut sampai keluar dari halaman sekolah. Dari hati yang was-was kalau-kalau ancamannya benar-benar dibuktikan” sampai kemudian bernafas lega karena kemudian tidak ada satupun kaca/bangunan sekolah yang disentuhnya. Belakangan saya cari tahu siapa orang itu. Ternyata seorang mantan residivis dan tidak memiliki anak. Sampai akhir masa tugas saya sebagai kepala sekolah disana, Alhamdulillah sSMK Negeri 3 Batam tidak pernah diganggu lagi.

Karena dianggap berhasil, saya kemudian diangkat lagi menjadi Kepala Sekolah di SMKN 3 Batam untuk periode kedua. Tapi baru beberapa bulan menjalankan tugas diperiode kedua, saya dipindahkan menjadi Kepala SMK Negeri 7 Batam yang masih dalam proses pembangunan pada bulan April 2013. Bulan Juni tahun 2013, saya dinotadinaskan lagi menjadi Kepala SMK Negeri 6 Batam sampai akhirnya pada proses pelantikan bulan September 2013 saya” resmi diangkat menjadi Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Batam yang prestasinya selalu melampaui sekolah lain, baik untuk tingkat Kota Batam maupun Provinsi Kepulauan Riau.

Itulah suka duka dalam perjalanan karier sebagai Kepala Sekolah. Saya yakin bahwa jika kita bekerja dengan ikhlas, maka akan tetap terpelihara semangat kita dalam situasi dan kondisi apa pun dan akan membawa kita pada rezeki atau keberhasilan yang tidak pernah kita duga.

 

 

 

 

 

Di awal-awal tahun pertama saat saya mengemban tugas sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Batam, saya membuat kegiatan out bond bersama dengan seluruh guru dan tenaga kependidikan SMK Negeri 1 Batam.” Di hotel bintang 4 kota Batam. Setiap guru/karyawan mendapat jatah 1 kamar hotel untuk dirinya dan keluarganya. Kegiatan outbond ini tujuannya untuk menyamakan “rasa” dalam mengembangkan sekolah, antara saya dan seluruh guru serta tenaga kependidikannya, tentu juga dengan memperhitungkan kekuatan dana sekolah yang ada.

Visi saya dalam memimpin sekolah adalah mencapai Keberhasilan setiap program kerja baik yang dibuat di internal sekolah maupun yang diperoleh dari Dit. PSMK baik program kerja jangka pendek maupun jangka panjang serta terjaganya keberlangsungan dampak dari program-program tersebut dan terpeliharanya komitmen untuk melaksanakannya. Tetap melaksanakan program/kegiatan yang sudah bagus dari kepala sekolah sebelumnya dan membuat serta melaksanakan program/kegiatan berikutnya yang belum ada untuk menambah kemajuan sekolah.

Beberapa program yang belum terwujud selama menjadi Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Batam, seperti:” Mewujudkan SMK Negeri 1 Batam menjadi sekolah bebas sampah (maksudnya bebas sampah yang dibuang sembarangan). Dan mengolah sampah plastik bekas minum menjadi biji-biji plastik untuk dijual kembali. Saya berasumsi, lebih dari 1.500 orang siswa SMK Negeri 1 Batam yang 1000 orang saja minuman air mineral 1 (gelas ataupun botol)” setiap hari, maka dalam 1 hari ada 1.000 gelas/botol air mineral yang menjadi limbah sampah. Dan jika ini diolah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis maka akan ada sumber pendapatan lain untuk membantu kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan. Namun sayangnya, mesin pengolahnya yang mahal membuat program ini belum berjalan.

Yang sangat membanggakan saya adalah untuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam, SMK Negeri 1 Batam dinilai sangat maju dibandingkan dengan sekolah lain, dikarenakan prestasi-prestasi yang berhasil diraih melampaui prestasi sekolah lain yang berada yang di wilayah Kota Batam maupun Provinsi Kepulauan Riau. Baik dari prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Sarana belajar teori dan praktek yang juga lebih memadai membuat julukan sebagai sekolah unggul dan maju melekat di SMK Negeri 1 Batam. Tapi sesungguhnya komitmen yang dibangun sejak awal sekolah ini didirikan di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah yang pertama sampai dengan saya (kepala sekolah ke 7) yang tetap terpelihara sampai saat ini untuk” terus memajukan SMK Negeri 1 Batam. Ditambah dengan komitmen Pemerintah Daerah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Dit. PSMK untuk memajukan SMK-SMK di seluruh Indonesia membuat SMKN 1 Batam lebih unggul dan maju. Satu lagi program saya yang menambah predikat keunggulan itu adalah mem-Benchmark– kan seluruh tim “manajemen” sekolah” dimulai dari level wakil kepala sekolah sampai ke kepala program keahlian ke sekolah/lembaga pendidikan di negara-negara maju. Tujuan dari kegiatan ini agar mereka memiliki visi yang sama dengan saya dalam mengelola sekolah.

Sampai saat ini memasuki tahun ketiga saya menjadi Kepala SMK Negeri 1 Batam, sudah semua Wakil Kepala Sekolah melakukan benchmarking ke negara-negara di benua Eropa dan baru beberapa kepala program keahlian melakukan kegiatan Benchmarking di Negara-negara kawasan Asia/ASEAN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *