Pahri, S. Ag.MM

Pahri, S. Ag.MM

Pahri, S. Ag.MM

Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi
(Periode Tahun 2009 ” Sekarang)

[Lahir di Bangkalan, 6 Juli 1971]

Jangan Terlalu Melekat

Terkadang yang tidak kita pikirkan atau tidak diharapkan justru akan membawa kebaikan bagi kita suatu saat nanti.

 

Kondisi alam Madura yang kurang subur. Tanah gersang, bebatuan dan berkapur. Air sulit di musim kemarau. Tanaman tidak mudah tumbuh. Kondisi yang serba keras ini membutuhkan orang yang memiliki energi lebih dan mau bekerja ekstra. Artinya kalau tidak kerja keras, maka sulit bertahan hidup. Nilai-nilai kerja keras ini yang seringkali ditanamkan oleh bapak saya yang telah memotivasi saya dalam bekerja. Bahkan orang tua seringkali mengingatkan saya, “Tugas manusia itu hanya ikhtiar, hasilnya Allah yang menentukan”.

“”””””””” Ternyata benar nasihat bapak saya. Kita pun harus menyadari bahwa kita boleh “terlalu melekat” dengan sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan. Yang penting kita lakukan adalah berusaha dan menikmati seluruh hasil dari usaha yang kita lakukan. Sebab terkadang yang tidak kita pikirkan atau tidak diharapkan justru akan membawa kebaikan bagi kita suatu saat nanti.

Hal ini terjadi pada diri saya. Sejak lulus tahun 1990 dari PGAN Pamekasan (setingkat SMA) saya terlalu melekat dengan apa yang saya cita-citakan, yaitu menjadi seorang Dosen. Dan impian itu pun terkabulkan.

Lepas dari pendidikan Menengah dari PGAN itu saya melanjutkan pendidikan ke S1 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan lulus tahun 1995. Tamat dari pendidikan S1 di UMM itu saya mendapatkan kepercayaan oleh Rektor UMM yang waktu itu dijabat Prof Drs. H. Malik Fadjar, M.Sc.

Saya diminta untuk mengajar di almamater.” Mungkin itu sebagai reward bagi saya yang waktu itu menjadi wisudawan terbaik Tingkat Universitas. Akhirnya saya pun menjadi Dosen di kampus UMM itu, dan menambah bekal pendidikan lanjutan ke S2 di UMM dan lulus tahun 1999.

Sebelum lulus dari S2 itu, oleh Rektor UMM yang ketika itu dijabat oleh Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Ap saya mendapatkan tugas tambahan untuk mengajar di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi.

Awalnya agak berat untuk menjalankan tugas ini, karena jarak rumah dan sekolah yang jauh (pulang pergi sekitar 85 Km) yang harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Terlebih lagi tradisi “akademik di Universitas dengan Sekolah sangat berbeda.

Selain itu, kondisi SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi masih memprihatinkan. Sekolah kecil, di desa dan di” tengah-tengah” kebun tebu. Terlebih lagi, keluarga tidak mendukung. Namun “tugas” ini harus saya jalankan. Waktu terus berjalan dan tahun 2009 saya diamanahi untuk menjadi Kepala Sekolah. Bersama PTK dan Persyarikatan” Muhammadiyah yang berkomitmen untuk memajukan dan membesarkan sekolah.

Ketika mendapatkan tugas sebagai Kepala Sekolah di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, satu tekad yang menggelora saat itu, yaitu semangat, kerja keras, kerja ikhlas, dan pantang menyerah.

Alhamdulillah, sekolah yang awalnya kecil dan memprihatinkan itu sekarang menjadi sekolah dengan segudang prestasi dan menjadi asset berharga bagi kota Malang, Jawa Timur dan Indonesia.

 

 

Dari Dosen Jadi Kepsek

Impian yang terlalu melekat itu ternyata tidak selamanya baik untuk dirisaya. Dengan keikhlasan hati saya lepaskan dan mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki ini untuk mencetak generasi muda penerus bangsa di lingkungan sekolah.

Dunia pendidikan memang sudah menjadi jalang kehidupan saya. Saat ini pun, saya tetap melanjutkan pendidikan saya hingga ke jenjang pendidikan Strata 3 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Pendidikan S3 ini saya jalani disela-sela saya menjalankan tugas sebagai Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (saat ini masih menyelesaikan studi S3).

Pencapaian karier yang saat ini saya lakukan telah membawa hasil. Semua itu karena saya konsekuen dalam bekerja, memikul tanggung jawab, amanah dan kepercayaan yang diberikan oleh Rektor UMM kepada saya untuk menjadi pemimpin di lingkungan sekolah dan berhasil membawa sekolah yang saya pimpin ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Orang yang banyak mempengaruhi jalan hidup saya adalah kedua orang tua saya,” H. Sayyidun dan Hj. Marbu”ah (almarhumah). Bapak dan Ibu yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh kasih sayang. Tulus ikhlas tanpa pamrih. Mereka mengajari dan memotivasi saya agar hidup menjadi orang yang berguna dan bermanfaat serta tidak menjadi beban bagi orang lain.

Nasihat yang tak dapat” dilupakan dari Bapak saya, “Sesibuk apa pun kamu, jangan sampai tinggalkan shalat”.

Sebagaimana orang desa pada umumnya, urusan agama adalah nomor satu. Segala-galanya. Tidak dapat digantikan dengan yang lainnya. Pesan itulah yang senantiasa tergiang-giang dalam hati dan jiwa saya.

Kedua orang tua saya tidak tamat sekolah dasar. Bahkan ibu saya tidak bisa membaca huruf latin. Namun yang saya kagumi adalah kecintaan mereka pada pendidikan. Suatu ketika saya bersama tujuh saudara diajak berkumpul di ruang tengah rumah. Materinya sangat serius, tetang pendidikan dan masa depan.

Waktu bapak bilang, “Saya tidak mempunyai banyak harta yang bisa diwariskan kepada kalian. Satu-satunya harta yang bisa saya warisan adalah ilmu. Silakan kamu belajar, hanya kemampuan Bapak sampai SMA. Kalau kamu ingin sekolah lebih tinggi lagi, silakan cari jalan sendiri. Cari biaya sendiri”.

Di desa saya memang jarang anak bersekolah, yang ada hanya anak mondok. Karena setamat sekolah dasar rata-rata bekerja membantu orang tua di ladang atau merantau di negeri seberang. Jarang ada orang tua yang berpikiran untuk menyekolahkan anak.

Ungkapan yang seringkali saya dengar dari masyarakat, “Untuk apa sekolah, kepala desa sudah ada, camat sudah ada, bupati sudah ada dan presiden pun sudah ada. Artinya percuma sekolah, karena jabatan strategis sudah banyak yang mengisi. Miris hati saya dengan sikap masyarakat desa seperti itu”.

Dinahkodai Sarjana Alam Ghoib

Saat diberi amanah memimpin SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, banyak PTK dan masyarakat yang meragukan dan menyangsikan kemampuan saya. Maklum pendidikan saya adalah Sarjana Agama (S.Ag). Sedangkan sekolah yang saya pimpin adalah sekolah yang berbasis Teknologi, Teknik Otomotif dan Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik.” Mereka mengatakan pendidikan saya tidak nyambung dan salah jalur.

Makanya gelar S.Ag saya, seringkali mereka plesetkan dengan singkatan Sarjana Alam Ghoib. Saya tidak marah, karena pekerjaan sarjana agama itu memang bersinggungan dengan hal-hal yang ghoib. Seperti iman kepada Allah, Malaikat, Surga dan Neraka.

Menghadapi mereka yang alergi dengan gelar S.Ag bahkan tak jarang melecehkannya. Ledekan-ledekan itu saya jawab dengan entheng-enthengan, “Memang tugas sarjana agama itu, menjadikan yang ghoib menjadi dhahir (tampak/kelihatan). Yang remang-remang menjadi jelas. Yang tidak nyata menjadi nyata. Yang tidak ada menjadi ada. Yang tidak maju menjadi maju. Dan yang terbelakang menjadi terdepan“.

Sebagai bukti, kini sekolah SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi sudah 7 tahun dinahkodai oleh Sarjana Alam Ghoib (S.Ag) dan yang dulu tidak jelas prestasinya, sekarang telah menjelma menjadi SMK Muhammadiyah ini menjadi jelas prestasinya. Bahkan sekarang menjadi sekolah unggulan, sekolah excellent dan sekolah rujukan Nasional dengan prestasi dan memiliki reputasi di Tingkat Nasional dan Internasional.

Walaupun saya sudah banyak mencetak prestasi di dalam meritis sekolahan ini, tetapi masih banyak hal yang belum terwujud dari mimpi besar kami beserta PTK SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Pertama, memiliki siswa minimal empat ribu lebih. Saat ini baru mendidik 2.300 siswa. Masih kurang 1.700. Jumlah siswa besar dengan harapan, memberikan manfaat yang besar kepada siswa, orang tua, masyarakat, bangsa dan Negara. Kedua, lahan tanah pendidikan minimal 100.000 “m2. atau sepuluh hektar. Baru tercapai 23.000 m2. Berarti masih kurang sekitar 77.000 m2.” Lahan yang luas memberikan ruang gerak yang cukup bagi peserta didik dan ruang terbuka untuk berkreasi. Sehingga sekolah yang luas akan menjadi tempat rekreasi pikir dan dzikir yang menyenangkan dan menggembirakan. Ketiga, sarana olah raga yang berstandar Internasional belum kami miliki. Seperti kolam renang, lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan panahan dan menembak, peralatan dan panggung pentas kesenian,” Keempat, sarana pendidikan berstandar Internasional juga belum memadai. Kelima, kesejahteraan” PTK saat ini pendapatannya belum memadai. Jika guru sejahtera, mereka pasti bangga dengan profesinya. Dampaknya” anak-anak Indonesia yang pintar dan cerdas di republik ini, kelak mereka pun akan memiliki cita-cita menjadi guru. Kalau gurunya pintar, maka akan melahirkan generasi-generasi Indoensia yang pintar, cerdas dan berkemajuan.

Harapan saya kepada generasi selanjutnya, agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi diri dan orang lain. Kesuksesan dapat diraih hanya dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Sebab, tidak kesuksesan diraih secara instan. Tanpa keringat dan hanya dengan bermalas-malasan. Bila sukses, maka jangan bosan untuk berbagi kesuksesan itu dengan orang lain dan jangan pelit. Mudahkanlah urusan orang lain, karena Allah pun pasti akan memudahkan urusan kita. Dan tak lupa bahagikan orang yang paling engkau cintai, seperti ibu dan bapak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *